Cerpen : A Bouquet of Roses (2012)

A Bouquet of Roses
By : Keke Wang

Sore itu mendung makin gelap. Hujan turun deras sekali, belum lagi angin yang kencang. Ellie duduk di jok belakang. Sesekali dilihatnya handphone yang sedari tadi digenggamnya. Wajahnya terlihat cemas. Ragu untuk meminta sopir taksi di depannya untuk menambah kecepatan mobilnya. Namun, Ellie harus mengejar waktu.
*
“Ellie, sudah dengar kabar tentang Gama?”
“Gama?” Ellie sudah lama tidak mendengar nama itu disebut. Bahkan Ellie menghapus semua memori terhadap seseorang yang bernama Gama. Tapi baru saja, sahabat dekatnya menyebut nama itu tanpa ragu, tanpa mengingat apa yang terjadi di antara Ellie dan Gama. Pikiran Ellie mengatakan ia tidak perlu tahu lagi tentang laki – laki itu.
Ellie, kau lupa begitu susahnya kau melupakan semua tentang laki -  laki itu? Kau lupa berapa banyak air mata yang kau tumpahkan karenanya?
“Ellie, lama amat bengongnya! Mungkin gue salah ngomong. Lupain aja.” Cheryl sepertinya tahu bahwa ia telah memulai obrolan yang salah. Ia buru – buru mengalihkan pembicaraan. “Jadi, gimana kerjaan baru? Kantor baru? Dan gebetan baru???”
“Cher, lo itu yah! Kenapa harus gebetan baru? Lo amnesia ya? Lo lupa gue punya pacar baik hati bernama Gasto.”

“Iya gue lupa. Gue lupa soalnya dia jauh!” jawab Cheryl cuek.
Ellie menyeruput milk tea plus bubble di hadapannya. Jauh? Iya, Gasto memang jauh. Ellie menghitung sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan pacarnya. Pacarnya yang jauh lebih dewasa ketimbang mantan – mantannya terdahulu, dari segi usia dan segi pandangan. Usia Ellie dan Gasto terpaut 8 tahun. Siapa yang pernah menyangka, Ellie akan jatuh cinta pada dosen penggantinya. Gasto asli warga Indonesia, lahir di Jakarta, besar di Jakarta, tumbuh di lingkungan keluarganya yang juga asli Indonesia. Keluarganya keluarga seniman. Ayah seorang pelukis, ibu seorang pebatik, dan adik seorang pelukis juga. Sayangnya, Gasto, lebih menyukai dunia bisnis. Lulus S2, dia bekerja di sebuah perusahaan multi national company. Karirnya meluncur bagaikan roket, hingga dalam hitungan empat tahun, ia menjabat sebagai wakil Marketing Director di perusahaan tersebut. Siapa yang menyangka, Gasto menjadi wakil sang atasan juga dalam mengajar sebagai dosen. Waktu itu, sang bos harus mengerjakan proyek di India selama 3 bulan. Jadilah, Gasto sebagai dosen pengganti.
Ya, sudah 14 bulan mereka tidak bertemu. Ellie menyeruput bubble milk tea-nya lagi. Ia tiba – tiba merasa sangat merindukan sosok Gasto. Sosok tinggi setengah brewokan, dengan penampilan sederhana. Rambutnya hitam kecoklatan, agak berantakan, mirip dengan gaya rambut Ashton Kutcher di film No String Attached. Resmi berpacaran setelah mereka kenal enam bulan, Gasto mendapar kabar akan dipindahtugaskan ke Abu Dhabi dengan segala fasilitas yang menjanjikan termasuk gaji dan jabatan. Ellie tidak ingin dirinya menghambat karir sang pacar. Ia sadar ia tidak berhak membatasi karir siapapun termasuk pacarnya sendiri. Sudah 14 bulan, dan Gasto belum pernah memberikan jawaban kapan dia akan kembali ke Jakarta. Terpaut perbedaan waktu 3 jam, membuat komunikasi di antara mereka cukup terganggu. Di saat kerja seharian di sana, dan waktunya malam untuk bersantai, di Jakarta sudah kelewat malam, terkadang Ellie harus menahan kantuk menunggu waktu untuk ber-Skype-an. Dan mereka biasanya akan bertemu secara maya di weekend.
“Masih Skype-an?” tanya Cheryl.
Ellie mengangguk. 
“Nyaman dengan keadaan kayak gini?”
“Cher, lo kayak detektif aja deh. Kenapa emangnya?”
“Di sini banyak cowok, kenapa harus menunggu yang nggak pasti?”
“Kalo kita ketemu di weekend, dan lo terus menyudutkan gue, lebih baik gue menghabiskan waktu weekend gue di salon atau malah Skype-an sama Gasto.”
“Okey, gue minta maaf. Gue cuma kasihan lihat lo, Ellie.”
I love him, much.” jawab Ellie singkat yang cukup membuat Cheryl diam dan tidak membahas apa – apa lagi sampai mereka mengucapkan salam perpisahan.
Ellie berjalan pelan menuju shelter bus Trans Jakarta Bunderan HI. Tidak terlalu ramai dan tidak perlu antri di hari sabtu sore seperti ini.  Wajahnya tampak tidak seceria biasanya. Kenapa Cheryl seolah tidak suka pada hubungannya dengan Gasto. Ellie melihat jam. Menghitung waktu di Abu Dhabi. Seharusnya ia tidak mengganggu aktivitas weekend-nya. Semalam saat Skype-an, Gasto bilang tidak ada rencana untuk weekend ini. Entah kenapa muncul rasa ragu, atau lebih tepatnya rasa takut, tidak enak mengganggu waktu weekend Gasto. Tapi, Ellie adalah pacarnya. Apakah seorang pacar tidak bisa seenaknya menghubungi pacarnya.  Ellie memutar balik tubuhnya kembali ke Grand Indonesia. Ia mencari sebuah coffee shop yang tidak terlalu ramai. Memang agak susah mencarinya, karena hari ini adalah malam minggu. Akhirnya Ellie masuk ke sebuah coffee shop memesan segelas green tea latte dan duduk di pojokan café.
“Gasto, miss you so much dear!” ucap Ellie membuka pembicaraan. Wajahnya langsung sumringah melihat kekasihnya di seberang sana. Gasto tersenyum manis, semanis biasanya.
Miss you too. Kamu lagi di?? Biar aku tebak. Di GI?”
“Tebakan kamu selalu benar.”
“Biasanya di rumah.”
“Nggak sabar nunggu sampai di rumah. Tadi habis ketemuan sama Cheryl.”
“Oh ya, tadi aku habis jalan – jalan, dan beliin ini!” Sambil menunjukkan sebuah kantong.
“Apa itu?”
“Rahasia sampai kita ketemu nanti di Jakarta.”
“Kita ketemu nanti di Jakarta?”
“Masa kerjaku sudah selesai.  Proyek di sini pun sudah selesai. So, aku balik ditugaskan di Jakarta. Good news or bad news? Kok ga senyum?”
Ellie terkejut mendengar apa yang baru saja didengarnya. Bagaikan menemukan oase di tengah padang gurun. Tentu saja ini kabar gembira. Saking terkejutnya, ia masih memasang wajah bengong.
“Ellie?”
“Aku pasti jemput kamu!”
*
Good news or bad news? Kenapa kalimat itu masih terbayang – bayang di benak Ellie? Ia senang setengah mati mendengar kabar itu. Bahkan sepulangnya ke rumah, ia langsung mengabari ibunya dan juga Cheryl. Tapi ada yang mengganggu hati Ellie.
“Ellie, sudah dengar kabar tentang Gama?” Suara Cheryl merasuki pikiran Ellie. Gama, nama itu yang membuatnya tidak nyaman. Mengapa rasa ingin tahu ini tiba – tiba membesar?
Kabar baru tentang Gama? Haruskah aku tahu itu? Haruskah aku menghubungi Cheryl?
*
Pagi ini terasa lebih baik dibandingkan dengan pagi – pagi sebelumnya. Semakin mendekati hari kepulangan Gasto tentunya. Ellie menghabiskan sarapannya seperti biasa. Kemudian pamitan dengan kedua orang tua. Untunglah hari ini hari Kamis, jadi Ellie tidak perlu berdesak – desakan di dalam bus karena hari Kamis, jadwal kuliah Eddy bersamaan dengan jam kerja Ellie, sehingga Eddy bisa mengantar Ellie sebelum ke kampus. Entah kenapa ada semacam trauma di dalam diri Ellie untuk mengendarai mobil. Di usianya yang mencapai 23 tahun ini, bahkan Ellie belum pernah duduk di belakang kemudi mobil. Orang tuanya sudah sering mengingatkan untuk mendaftarkan diri untuk kursus menyetir mobil. Namun berkali – kali sudah Ellie mengurungkan niatnya untuk kursus.
“Jadi Gasto balik ke sini lagi, Kak?”
“Iya. Senangnya. Gue itu udah setahun lebih kayak jomblo.”
“Lah mending daripada gue, Kak. Jangan aja, gue jadi jomblo perak.”
“Makanya buruan cari pacar, Eddy. Jangan sampai ada gossip yang nggak enak!”
“Maksud, Kakak?”
“Hah, sudahlah, thanks ya. Gue turun di sini aja. Nggak usah sampe lobby. See ya!”
Wajah ceria Ellie berubah menjadi wajah kemerahan karena menemukan sebuah bouquet bunga di meja kerjanya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Belum ada siapa – siapa. Dilihatnya kumpulan bunga mawar cantik di hadapannya. Untuk memastikan bunga ini tidak salah diantar, ia mengambil sebuah amplop yang terselip. Di amplop depan tertulis namanya.Benar, bunga ini ditujukan untuknya. Wajahnya makin terasa panas ketika memikirkan Gasto. Sejak kapan ia bisa menjadi seromantis ini. Ellie mengambil handphone-nya dan langsung mengambil foto bouquet bunga tersebut. Tanpa ragu, ia mengganti display picture di messenger-nya. Dan mengetik status : So romantic.
Beberapa detik kemudian, handphone-nya berbunyi. Sebuah pesan messenger dari Gasto.
“So beautiful. Is it yours?”
Mendapati respon seperti itu, membuat Ellie berpikir. Benarkah bunga ini dari Gasto? Kenapa ia seolah tidak tahu tentang bunga itu? Mata Ellie mengarah pada amplop yang belum dibukanya. Buru – buru ia membuka amplop itu.
Ellie,
Anggap saja ini adalah sebuah permintaan maaf.
Anggap juga ini adalah sebuah pelunasan.
Selalu lah ceria dan bersinar.

Gama.
Gama? Tiba – tiba Ellie merasa dunianya berhenti berputar. Nafasnya berhenti. Dan tiba – tiba ia merasa kakinya lemas. Kenapa bisa ada bunga ini di sini? Di meja ini, di ruangan ini dan di kantor ini? Sudah dua tahun lebih Gama hilang dari hidup Ellie. Kenapa bunga ini dan amplop ini muncul begitu saja? Pikiran Ellie langsung tertuju pada Cheryl.
“Cher, lo harus cerita ke gue. Harus!”
“Tenang dulu, El. Cerita dulu ada apa sebenarnya.”
“Bunga. Ada bunga kiriman dari Gama. Lo pernah tanya ke gue apa gue tahu kabar terbaru tentang Gama.”
“Kita ketemu pas jam makan siang ya.”
*
“Jadi semua informasi itu dari lo?” tanya Ellie tidak percaya.
“Dia terlalu mencintai lo.”
“Nyatanya, dia hilang, dia pergi.”
“Dia pergi demi lo. Demi kebaikan lo.”
“Lo emang lebih pro ke dia, daripada ke Gasto. Sudahlah, kalo emang lo sering ketemu dia, bilang ke dia, jangan pernah ganggu hidup gue lagi.” Kemudian Ellie bangkit dan pergi meninggalkan Cheryl. Ia merasa dirinya sangat kacau.
“Gama sakit. Sakit parah,” ucap Cheryl pelan. Cheryl yakin Ellie masih bisa mendengar suaranya. Ia sempat melihat langkah sahabatnya berhenti sebelum Ellie benar – benar hilang dari pandangannya.
Gama sakit. Sakit parah. Suara Cheryl terus terngiang. Ellie makin kacau. Haruskah ia menelepon Cheryl? Tapi gengsinya lebih besar ketimbang rasa penasarannya. Ellie membiarkan dirinya hanyut dalam semua kekacauan. Chatting dengan Gasto saja terasa hambar.
Keesokan sorenya, Cheryl menjemput Ellie di kantor. Ellie tahu ke mana mereka akan pergi. Ellie membiarkan dirinya menurut saja pada sahabatnya itu. Mungkin dengan begini ia akan mendapat jawaban atas apa yang dialami Gama. Ia berharap ia bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Sepanjang perjalanannya, Ellie membayangkan masa – masa saat ia bersama Gama. Keduanya berada di jurusan yang sama, berada di kelas yang sama. Keduanya semakin dekat dan akhirnya Gama menembak Ellie saat study tour himpunan jurusan mereka ke Bali. Di bawah indahnya matahari sore di Pantai Kuta dengan deburan ombak serta tawa anak – anak yang sedang bermain pasir. Tidak ada cincin, tidak ada rayuan, tidak ada gombalan. Gama menyatakan perasaannya. Ellie bisa merasakan ketulusan yang keluar dari mulut Gama. Ellie membalas dengan senyuman dan juga membalas menyatakan perasaannya. Saat itu tidak berlangsung lama. Cheryl tidak sengaja memergoki Ellie dan Gama yang sedang duduk berdua sambil berpegangan tangan. Momen itu sempat diabadikan. Sayangnya, Ellie sudah membuang semuanya ketika Gama hilang dan tidak pernah kembali hingga bouquet mawar itu muncul di hadapannya. Ellie tidak pernah menyangka cinta pertamanya berakhir sangat menyakitkan. Gama hilang setelah mereka hampir setahun berpacaran. Bahkan Ellie sudah mempersiapkan kejutan untuk anniversary mereka. Handphone tidak bisa dihubungi, tidak pernah hadir dalam kelas, di rumah pun selalu tidak ada orang. Seminggu, dua minggu, satu bulan hingga lima bulan, Ellie terus menunggu. Namun, tetap nihil.
Jantung Ellie berdegup kencang saat mobil Cheryl berhenti di depan sebuah rumah. Sebuah rumah yang besar dengan taman yang luas. Sayang sekali, karena sudah gelap, Ellie tidak dapat menikmati indahnya taman di rumah itu. Cheryl menggandeng Ellie masuk ke dalam dan menekan tombol bel.
Sepuluh detik kemudian, seorang pembantu membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Ellie mengenal isi rumah tersebut. Pajangan serta pigura foto, semuanya masih sama dengan isi rumah Gama sebelumnya. Ellie kenal dengan anjing yang berlarian ke arahnya. Anjing ras shitsu itu terlihat senang bertemu dengan Ellie. Quini, nama anjingnya. Masih sangat jelas momen ketika Ellie dan Gama pergi ke sebuah petshop dan membeli sebuah baby shitsu. Quini, nama yang dipilih Ellie.
“Quini masih mengenali kamu,” ucap seseorang yang membuat Ellie menoleh ke arah suara tersebut.
“Tante,” sapa Ellie.
Wanita itu terlihat jauh lebih tua dibanding dua tahun lalu. Raut wajahnya terlihat letih. Ellie mendekati mama Gama dan memeluknya. Ellie bisa merasakan kesedihan yang dirasakan kedua orang tua Gama. Ellie juga menyapa papa Gama. Sang ayah menceritakan segalanya, segalanya hingga Ellie tidak tahan membendung air matanya.
“Ia sangat lemah. Dan berita baiknya, kami sudah mendapatkan donor sumsum yang cocok untuknya. Hari Minggu ini, operasi akan dilakukan. Ini harapan satu – satunya sebelum Gama perlahan menjadi lemah dan ….,” sang ayah tidak bisa meneruskan ucapannya.
Ellie tidak pernah tahu. Ellie tidak pernah merasakan ada sesuatu yang janggal pada Gama. Ellie tidak pernah tahu ada yang disembunyikan Gama darinya. Sakitnya sungguh menyakitkan. Satu hal yang pasti sekarang, Ellie tahu, Ellie harus di sini, harus menemani kedua orang tua Gama. Mereka pasti sangat lelah. Ellie tidak tahu apa kehadirannya dapat memberikan dorongan positif bagi Gama. Ellie takut, takut Gama tidak menginginkan kehadirannya. Ellie mengintip dari balik pintu yang setengah terbuka. Dilihatnya Gama sedang terbaring. Gama tidak seenergik dulu, Gama tidak secerah dulu, Gama tidak sebugar dulu. Kepalanya memakai kupluk. Rambutnya rontok hasil kemotrapi. Perlahan Ellie melangkah ke dalam. Diamatinya wajah itu. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu Gama dalam keadaan seperti ini. Ia duduk di samping ranjang tempat Gama tidur. Ragu – ragu, ia menggerakkan tangannya, untuk memegang tangan Gama. Tangan itu, tangan yang selalu menggenggam Ellie. Tangan yang selalu menjaga Ellie. Tangan itu begitu rapuh.
“Ellie?”
Suara itu membuat Ellie menoleh.
“Gama, maaf aku bangunin kamu ya?”
“Nggak apa – apa. Kamu, gimana … “, Gama terlalu lemah, terlalu lemah untuk berbicara. Satu yang pasti, kehadiran Ellie sungguh hadiah terindah untuknya saat ini. Ia senang melihat Ellie baik – baik saja.
“Sstt, Gama, jangan banyak ngomong dulu. Aku udah tahu semuanya.”
“Maaf…”
“Untuk apa? Kamu nggak pernah salah, Gama. Hanya aku yang tidak pernah sadar. Maafin aku. Harusnya aku ada di saat – saat kamu membutuhkan aku. Kamu berjuang sendiri selama ini. Aku janji, aku akan di sini terus sama kamu.”
Gama memegang tangan Ellie.
“Terima kasih, Ellie.”
“Terima kasih juga untuk bunganya. Bunga yang dari dulu aku ingin dapatkan dari seorang pria. Kamu sudah berhasil memenuhi keinginan aku.”
Ellie duduk di sebuah café di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Mengambil cuti seminggu di awal masuk kerja, mungkin terdengar begitu ekstrim. Keberanian itukah yang datang dari cinta?  Semua yang diucapkannya, janjinya pada Gama terlontar begitu saja. Bukan cinta lama bersemi kembali. Ellie benar – benar tidak berani berpikir seperti itu. Ia hanya ingin merawat Gama selayaknya teman, tidak lebih dan jangan lebih. Ellie bahkan lupa bahwa kekasihnya sebentar lagi akan tiba. Iya, Gasto akan tiba di Jakarta sebentar lagi. Sesaat terbesit, lebih baik Gasto tetap di Abu Dhabi, tetap menjalani hubungan jarak jauh, sementara ia bisa menemani Gama di sini. Tapi apakah keinginan itu terlalu egois?  Ellie mengeluarkan selembar foto Polaroid yang diambil kemarin saat Ellie menemani Gama berjalan – jalan. Senyum Gama masih sama, walau warna mukanya terlihat pucat.
Ellie melihat jam di tangannya. Handphone-nya berbunyi. Cheryl mengirim pesan chat.
El, masih di Bandara? Inget kan janji lo?
Kesekian kalinya, Cheryl terlihat tidak menyukai kebersamaan Ellie dan Gasto. Kesekian kalinya, Cheryl selalu mendesak Ellie untuk lebih bersama Gama. Apakah Cheryl bersikap demikian karena keadaan Gama yang sakit? Ya, kebijaksanaan Ellie diuji kali ini. Dalam doanya setiap hari, ia hanya ingin bisa bersikap bijaksana membagi waktunya, bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan, dan bersikap bijaksana dalam menempatkan hatinya.
Ellie melihat sosok itu dari kejauhan. Sosok yang sangat dikenalnya. Belum banyak berubah. Hanya rambutnya terlihat lebih pendek. Sosok itu tersenyum ramah kepadanya seraya melepaskan kacamata hitamnya. Ia masih tampan, masih bugar, masih sempurna di mata Ellie. Tanpa ragu, Ellie memeluk Gasto dengan erat. Ia tidak peduli walau beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Ellie tidak tahu mau berbicara apa. Yang pasti, ia hanya ingin menumpahkan rasa rindunya lewat pelukan.
“Kita pulang ke rumahmu dulu gimana?” tanya Ellie di dalam taksi.
“Bukannya kamu mau kita langsung jalan – jalan dan menghabiskan waktu seharian bersamaku?”
Ellie bahkan lupa ia pernah mengucapkan itu, sebelum ia tahu bahwa Gama tengah menderita. Tapi sungguh, Ellie benar – benar harus menemui Gama di rumah sakit. Ellie tidak tahu harus beralasan apa. Ia tidak bisa menceritakan tentang Gama pada Gasto.
“Iya, aku pikir kamu pasti capek, jetlag. Dan mungkin mamamu ingin melepas rindu. Aku ada meeting dengan klien. Aku bahkan minta izin untuk menjemput kamu. Untung atasanku baik hati.”
Gasto tertawa. “Oke. Nanti malam aku jemput kamu. Kita makan malam di rumahku ya.”
“Apa boleh ditunda besok? Aku takut meetingnya memakan waktu lama. Aku takut membuat kecewa kamu dan keluarga kamu.”
“It’s ok. Nanti telepon aku sehabis meeting ya!”
*
Sore itu mendung makin gelap. Hujan turun deras sekali, belum lagi angin yang kencang. Ellie duduk di jok belakang. Sesekali dilihatnya handphone yang sedari tadi digenggamnya. Wajahnya terlihat cemas. Ragu untuk meminta sopir taksi di depannya untuk menambah kecepatan mobilnya. Namun, Ellie harus mengejar waktu. Ia berharap Gasto percaya padanya. Ia berharap ia masih bisa bertemu dengan Gama sebelum operasi dimulai. Ia berharap masih bisa memberikan semangat pada Gama.
*
Ellie melambaikan tangannya hingga sosok itu tak terlihat lagi dari pandangannya. Gasto kembali ditugaskan ke luar negeri. Kontrak proyek di Singapura berlangsung selama satu tahun. Dalam perjalanan, Ellie membuka sebuah kotak pemberian Gasto sebelum mereka berpisah tadi. Sebuah mainan kaca yang di dalamnya ada sepasang kekasih sedang duduk di taman. Ellie memutar bagian bawah mainan tersebut sehingga mengeluarkan musik indah. Ada secarik kertas di dalam kotak tersebut.
Dear my sweetheart Ellie,
Kamu pasti sedang mendengarkan musik dari mainan kaca itu ya? Kamu suka? Pasti kamu langsung ingin Skype-an denganku?

Ellie tersenyum.
Ellie, aku yang meminta untuk dipindahkan ke Singapura supaya kamu lebih bisa leluasa menjaga Gama. Aku sudah tahu. Dan kamu tidak perlu minta maaf karena kamu tidak bersalah. Sebaliknya, aku bangga mempunyai kekasih seperti dirimu.  
Aku senang kita masih bisa menghabiskan waktu bersama. Dua minggu di Jakarta, membuat hidupku kembali berewarna.
Jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah bekerja. Ingat id Skype-ku masih ElliesMrRight.

Regards,

Your Gasto

Thank you God for send me a charming and caring Mr.Right. He always be my Mr. Right now and forever.
***

 

No comments:

Post a Comment